Tamansari is derived from two words, “taman,” means a garden and “sari,” which means either beautiful or flowers. Hence, the name Tamansari means an area of a beautiful garden adorned with various captivating plants and flowers.
Tamansari is located 500 meters in the south of the Sultan palace of Yogyakarta. The garden which is surrounded by artificial lake named Segaran with the fragrant scent of flowers which were planted surrounding the artificial island.
It was built around 1761 by the first king of Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono I. But now, this place is filled by the human settlements and only remaining some little pool with fountains.




It’s still beautiful though!
I cannot imagine how glorious it was…
I was thinking the same thing!!
Wow!
Wow!
sudut pandang yang terakhir keren mas.
cuma masih noise keliatan ada orangnya.. susah nyari situasi bener2 sepi…
iya ya? blm klik sih tadi. gak perhatiin ada orangnya.
susahnya kalau foto gitu ya mas. nunggu momen yang pas buat diabadikan.
kalau mau sepi yah malam2 om hehehehe #kabur#
As I shared Sigoese in response to your Post The Kiss, it is so good when God’s creation is appreciated and cared for but so sad when it is overlooked or neglected.
Thank you for sharing your gift of Photography with us and may you be greatly blessed and those you Love.
Christian Love from both of us – Anne
Thanks, Anne..
May Jesus bless you and families..
Cantik! :’(
mana?
its amazing, cuman sayang pasti slalu rame.
aku rak pak koment fotone seng jare apik iki tapi pak ndelok ae mergo aku kesemsem mbek fotone hahahahahahaha wes pokokmen josss si om boss iki, aku sir yg foto terakhir….#back ke masa lalu aahhhh#
seseorang mengatakan padaku: “mbok jangan hidup di masa lalu…”
“mbok jangan hidup di masa lalu…”
mbok ku wes gak ono om hehehe…kabuurrrr
Reblogged this on elya2011.
Terowongan yang ada di salah satu foto itu tembusnya ke mana mas? Sebab saya pernah baca bahwa terowongan itu bisa tembus sampai Laut Selatan, gak tahu benar atau tidak
nggah sih, cuma lorong yang nembus ke sekitar situ juga… tapi kayaknya memang masih ada terowongan2 lain yang ditutup.. enggak serumit jaman saya masih suka maen ke sana pas kecil dulu…
*sekarang udah gede
Pingback: Sititur: Dari Tugu Hingga Bukit Bintang | Pawuhan
Sayang lampu-lampu yang dipasang di terowongan itu bentuknya kelihatan modern ya, Mas. Jadi rodo gak nyambung, menurut aku.
Betul Mas…
lebih sayang lagi karena itu dipasang percuma, gak ada lampunya… mending dilepas sekalian malah asik..
Ya itulah . . . seringnya melakukan sesuatu gak pakai dipikir dulu. Aku setuju kalau lampu-lampu itu mending dicopot saja sekalian.
besok kalau saya jadi HB XI